Catatan & Puisi

Tampilkan postingan dengan label Manajemen Konstruksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Konstruksi. Tampilkan semua postingan
Holtekamp Bridge, Jayapura  (sumber: Times Indonesia)


Baiklah pada tulisan sebelumya sudah sedikit membahas salah satu metode penggambaran dalam Network Planning yakni AoA/ADM. Maka selanjutnya, dalam tulisan kali ini, akan sedikit lebih masuk lagi membahas istilah-istilah yang perlu dipahamid dalam NPT (yang juga otomatis dalam AoA dan metode lainnya) guna mendapatkan gambaran teknis yang jelas terkait penggunaan NPT.

Salah satu keunggulan dari NPT beserta metode AoA dan AoN didalamnya adalah kita bisa menghitung atau menggambarkan jalur kritis, yang mana bisa dibilang jalur kritis ini adalah ruh dalam network planning.

Apa itu jalur kritis? Jalur kritis menurut Soeharto:1995 dalam buku Manejemn Konstruksi karya Widiasanti & Lenggogani adalah jalur yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan, dengan total jumlah waktu terlama dan menunjukkan kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai akhir

Pentingnya jalur kritis ini kita ketahui adalah karena dalam kegiatan-kegiatan yang masuk dalam jalur kritis akan berpengaruh terhadap keseluruhan jadwal proyek. Artinya bila salah satu kegiatan dalam jalur kritis tidak tepat waktu, maka proyek tersebut sudah dipastikan akan molor dan bertambah waktunya. Jalur kritis mewakili keseluruhan durasi dari proyek yang kita rencanakan.

Maka bisa dipastikan, sebagai pelaksana proyek konstruksi atau kontraktor, kegiatan-kegiatan pada jalur kritis ini harus dikawal & dikontrol dengan cakap dan seksama agar jadwal yang sudah direncanakan bisa ditepati. Diluar itu jika memang kegiatan pada jalur kritis ini terlambat, sebenarnya masih besar peluang untuk membawa progress proyek kembali ke track atau jalurnya sehingga masih sesuai dengan tenggat waktu yang disepakati, yakni dengan percepatan atau crashing program. Hal ini akan dibicarakan lebih dalam dilain waktu.

Dalam upaya mencari jalur kritis dalam network planning maka kita perlu mengenal istilah-istilah sebagai berikut yakni:

-Early Start (ES): waktu paling awal sebuah kegiatan dapat dimulai setelah kegiatan sebelumnya selesai.

-Late Start (LS) : waktu paling akhir sebuah kegiatan dapat dimulai tanpa memperlambat penyelesaian jadwal proyek

- Early Finish (EF) : waktu paling awal sebuah kegiatan dapat diselesaikan jika dimulai pada waktu paling awalnya (ES) sesuai dengan durasinya

- Late Finish (LF) : waktu paling akhir sebuah kegiatan dapat diselesaikan tanpa memperlambat penyelesaian proyek

Gambar diagram berikut menempatkan istilah-istilah yang baru saja dijelaskan, khusus pada metode AoA.

sumber: Widiasanti & Lenggogani

Untuk mencari jalur kritis dari kegiatan-kegiatan yang sudah kita deskripsikan dan disertakan masing-masing durasinya maka dibutuhkan perhitungan yang dikenal dengan perhitungan maju dan perhitungan mundur. Jika hanya menghitung salah satunya, kita tidak akan memperoleh jalur kritis yang kita inginkan. 

Tanpa contoh, kita akan sulit untuk mencernai maksud daripada perhitungan maju dan mundur ini. Maka akan disertakan contoh perhitungan dan penggambaran jalur kritis melalu metode AoA dibawah ini. 

Anggaplah kita sudah menentukan kegiatan-kegiatan beserta durasi dan prior activity nya dalam sebuah tabel.

KegiatanDurasi (hari)Prior Activity
A3-
B3A
C5A
D4B
E6C
F4D, E

Setelah memproleh tabel tersebut, tentu kita perlu menggambar diagram kerjanya. Gambar Diagram kerja dari proyek tersebut  menggunakan metode AoA adalah sebagai berikut:


Setelah menggambarkan diagram secara utuh, maka kita perlu memasukkan deksripsi-deskripsi didalamnya, dalam perhitungan maju kita mengisi terlebih dahulu ES dan EF nya yang akan digambarkan sebagai berikut

sumber: Widiasanti & Lenggogani

dalam perhitungan maju, untuk menentukan EF dari sebuah kegiatan digunakan rumus:

EF = ES + D

Misalnya pada contoh node 2, ES adalah 0 karena merupakan kegiatan awal, ditambah durasi dari kegiatan A yakni selama 3 hari. Maka diperoleh EF pada node 2 sebesar 3 hari. Karena metode diagram AoA mengharuskan node sebelumnya menjadi node awal pada kegiatan selanjutnya (ingat metode I-J) maka node 2 menjadi I dan node 3 menjadi J, serta node 4 menjadi node J pada kedua node diantaranya. Pada node 3 durasi kegiatan B adalah 3 maka dengan rumus didapatkan EF pada node 3 sebesar 6 begitu juga dengan node 4, memperoleh EF sebesar 8 karena kegiatan C berdurasi 5 hari. 

Pada pertemuan 2 anak panah seperti pada kegiatan D dan E, maka EF yang digunakan pada node 5 dipakai nilai atau jumlah yang terbesar dari perhitungan EF antara  Node 3-5 dan Node 4-5. Maka dari penjumlahan tersebut digunakan nilai EF sebesar 14. 

Sehingga selanjutnya diperoleh pada node 6 total durasi dari kegiatan/proyek yakni sebesar 19 hari.

Selanjutnya kita perlu melakukan perhitungan mundur, sehingga diperoleh perhitungan mundur sebagai berikut:

Sumber: Widiasanti & Lenggogani
Perhitungan mundur diperuntukan untuk mencari LS dari setiap kegiatan. Hitungan mundur dimulai dari node paling akhir kegiatan yakni dalam contoh ini adalah node 6. cara mencari LS adalah dengan menggunakan rumus

LS = LF-D

Sehingga pada node 5 diperoleh LS sebesar 14, karena LF pada node 6 (19 hari) dikurangi durasi kegiatan F (5  hari) begitu selanjutnya. Pada pertemuan 2 anak panah, berbeda dengan perhitungan majut, maka pada perhitungan mundur digunakan LS yang terkecil. Misalnya pada Node 3-2 dan Node 4-2, digunakan LS terkecil yakni 3 hari.

Dari perhitungan maju dan mundur tadi maka akan diperoleh jalur kritis. Jalur kritis tersebut dapat diketahui ketika kita menghitung Total Float dari masing-masing kegiatan. Jalur kritis merupakan kegiatan-kegiatan dengan Total Float sama dengan 0. 

Total float sendiri dihitung dengan rumus

TF = LF - EF atau LS-ES

Misalnya pada Node 6

TF = LF-EF = 19-19 = 0


Pada node 3

TF = LF-EF = LS-ES =  10-6 = 4

dan selanjutnya

Dari perhitungan tersebut maka dapat diperoleh jalur kritis yakni pada kegiatan dengan TF=0 yakni, 
A-C-E-F.

Dalam perhitungan mencari jalur kritis ini, TF daripada Node paling awal dan node paling akhir haruslah 0. Jika tidak maka dipastikan ada kesalahan dalam perhitungan maju/mundur anda.

Maka kegiatan A-C-E-F harus dipastikan tepat waktu, jika tidak durasi total proyek akan lebih dari yang kita rencanakan. 
Brandangersundet bridge, Norway (sumber: Skanska Construction)


Baiklah. Setelah sekian hari dari tulisan terakhir yang kurang mendalam tersebut, saya kembali meregangkan jari-jemari tuk menulis sesuatu yang tidak juga mendalam. Proses menulis “ketekniksipilan” ini cuma ingin menguji kembali pengetahuan dan ingatan saya terkait materi-materi dasar yang telah tuntas dipelajari dibangku perkuliahan strata 1 kemarin.

Baiklah tanpa berpanjang lebar, tulisan terakhir telah sedikit masuk membahas Network Planning Technique yang ternyata adalah satu group dalam keilmuan Operation Technique Research (OTR). Pada kesempatan ini saya hanya sedikit masuk lagi kedalam, tuk membahas salah satu teknik penggambaran diagram network planning yakni dengan metode aktifitas/kegiatan pada anak panah atau Activity on Arrow atau kerap juga disebut Arrow Diagram Method.

Hal mendasar dari AoA atau ADM ini adalah meletakkan kegiatan/aktifitas dalam anak panah, sedagkan untuk peristiwa/event/kejadian diletakkan pada lingkaran atau biasa disebut dengan node. Node pada bagian awal atau ekor anak panah disebut node I, sedangkan pada akhir atau kepala anak panah disebut node J.

Pada titik ini mungkin kita dapat bingung perbedaan antara activity dan event/peristiwa/node. Dalam buku Manajemen Konstruksi karya Dewiasanti & Lenggogani menjelaskan bahwa aktivitas adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari proyek. Sedangkan event adalah titik signifikan selama waktu proyek. Sebuah event bisa saja merupakan waktu yang mana suatu aktivitas diselesaikan atau waktu yang mana aktivitas seluruhnya selesai..

Jadi bisa disimpulkan jika node/event adalah tanda aktivitas sebelumnya, yang digambarkan dalam anak panah telah selesai, yakni node J. Karena metode ini menghubungkan setiap kegiatan, maka node J dari kegiatan sebelumnya akan menjadi node I pada kegiatan berikutnya. 

Sebagai tambahan karena priyek didefinisikan sebagai suuatu kegiatan yang ada  awal dan akhir, maka node-I dibutuhkan di awal dan node J diubutukan di akhir. Akhirnya dari hal itu kita bisa membuat jaringan kerja dari masing-masing kegiatan, dari awal sampai akhir atau proyek dinyatakan finish/selesai.

Berikut contoh sederhana penggambaran node I-J pada satu aktivitas/kegiatan

Node I-J dalam satu aktivitas (sumber: Widiasanti & Lenggogani)

Beberapa contoh lain sebagai penggambaran metode ADM adalah sebagai berikut

Contoh sederhana ADM/AOA (sumber: Widiasanti & Lenggogani)

Dalam gambar 1, ADM haruslah dilengkapi dengan deskripsi tambahan seperti nama kegiatan (pada anak panah) yang umumnya diwakilkan dengan huruf abjad atau angka. Penyertaan durasi pekerjaan masing-masing kegiatan pada anak panah juga wajib, untuk memberikan deskripsi yang jelas. 

Dalam gambar 2 diberikan tabel kegiatan/aktivitas dan tabel prior activity. Prior activity menjelaskan kegiatan mana yang sebelumnya perlu dilakukan sebelum kegiatan pada aktivitas itu dikerjakan. misalnya pada contoh 2, kegiatan B dan C dimulai ketika kegiatan A telah selesai.

Dalam kaitan dengan dunia konstruksi, urut-urutan kegiatan ditentukan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bidang manajerial yakni manajer proyek dan staff dibidiang penjadwalan & cost control nya. Begitu juga dengan durasi, perhitungan durasi masing-masing kegiatan membutuhkan analisa yang lebih dalam lagi yakni analisa volume pekerjaan, alat dan tenaga kerja. Dari analisa itu bisa diperoleh gambaran durasi suatu pekerjaan. 
Power Plant Construction in USA (sumber: Bechtel Construction )

Baiklah. Kali ini saya, meminjam istilah salah seorang senior di Sipil dulu, "sedikit masuk"  dan akan membahas hal-hal umum terkait Network Planning Techniques (selanjutnya disingkat NPT) atau teknik perencanaan jaringan kerja yang pasti akan digunakan dalam manajemen proyek.

Menurut Sofwan Badri dalam buku Dasar-Network Planning terbitan 1988, NPT sebetulnya adalah satu dari sekian teknik-teknik manajemen. Yang mana NPT ini adalah termasuk dalam bidang Operation Technique Research (OTR) atau teknik penelitian operasional.

Perkuliahan di jurusan teknik sipil, khususnya tempat saya dulu, menjadikan penelitian operasional ini sebagai mata kuliah pilihan. Jarang mahasiswa ingin mengambil mata kuliah pilihan tersebut kecuali jika sudah terpepet karena kehabisan makul pilihan lainnya untuk memenuhi jatah SKS per semester mereka.

Beberapa teman-teman NPT dalam satu jaringanya dengan OTR adalah misalnya linear programming, non linear programming, dynamic programming, queuing theory, teori probabilitas monte carlo dan lain-lain yang mungkin akan dibahas dilain waktu pengaplikasiannya di dunia teknik sipil. Untuk saat ini kita fokus ke NPT terlebih dahulu.

Dalam sejarah, NPT dirancang untuk mengakomodir perencanaan peluru kendali jenis Polaris yang dibuat US Navy pada tahun 1957. beberapa problem yang mendesak terlahirnya NPT adalah karena ikut sertanya 400 kontraktor, proyek baru pertama kali dilaksanakan sehingga deviasi antara perencanaan dan pelaksanaan bisa besar sekali, hingga keterbatasan waktu karena persaingan senjata dengan Russia (USSR). Sehingga dibentuk biro konsultan untuk memecah problem tadi, dan lahirlah apa yang dinamakan PERT atau project evaluation & review Technique, yang merupakan salah satu dari NPT.

Sedangkan Critical path metode (CPM) yang juga bagian NPT, yang lebih familiar di dunia proyek konstruksi, juga dikembangkan pada tahun 1958 untuk memecahkan kesulitan-kesulitan proses fabrikasi pada perusahaan bahan kimia Du Pont Company USA.

Secara teori, menurut Badri dalam bukunya, prinsip NPT adalah hubungan ketergantungan antara bagian-bagian pekerjaan yang digambarkan dalam diagram network atau jaringan. Dengan begitu dapat diketahui pekerjaan atau kegiatan mana yang harus didahulukan, pekerjaan mana yang perlu menunggu selesainya pekerjaan yang lain, dan pekerjaan mana yang tidak perlu menunggu pekerjaan yang lain sehingga alat dan orang dapat digeser ke tempat lain demi efisiensi pekerjaan.

Dipohusodo:1996 menjelaskan bahwa NPT merupakan cara grafis untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan dan kejadian yang diperlukan untuk mencapai tujuan proyek. Jaringan menunjukan susunan logis antar kegiatan, hubungan timbal balik antara pembiayaan dan waktu penyelesaian proyek, dan berguna dalam merencanakan urutan kegiatan yang saling tergantung dihubungkan dalam waktu penyelesaian proyek

Dalam dunia proyek konstruksi yang mempunyai urut-urutan pekerjaan-pekerjaan yang banyak dan kompleks, NPT ini mampu membantu para stakeholder proyek tersebut untuk melihat gambaran umum pelaksanaan suatu proyek konstruksi, dan juga merupakan salah satu bahan untuk kontrol proyek.

Beberapa keuntungan penggunaan NPT dalam proyek, sebagaimana dijelaskan oleh Badri adalah sebagai berikut:

- merencanakan, menjadwalkan dan mengawasi proyek secara logis
- memikirkan secara menyeluruh, tetapi juga mendetail suatu proyek
- mendokumentasikan dan mengkomunikasikan rencana jadwal dan alternatif lain penyelesaian proyek dengan tambahan biaya
- mengawasi proyek dengan lebih efisien, sebab hanya jalur kritis saja yang perlu pengawasan ketat

Langkah-Langkah membuat network planning, menurut Callahan:1992, adalah:
1. Menentukan aktivitas/kegiatan
2. Menentukan durasi aktivitas/kegiatan
3. Mendeskripsikan aktivitas/kegiatan
4. Menentukan hubungan yang logis


Dalam menentukan hubungan yang logis antar masing-masing pekerjaan/aktivitas/kegiatan tersebut dibutuhkan metode penggambaran diagram yang umumnya terdiri dari dua yakni:

- Activity on Arrow - kegiatan digambarkan dalam anak panah (digunakan dalam Arrow Diagramming Method (ADM))
- Activity on Node - kegiatan digambarkan dalam lingkaran (umumnya digunakan dalam Precedence Diagram Method (PDM))

Activity on Arrow atau ADM (sumber: Widiasanti & Lenggogani)


Activity on Node atau PDM (sumber: PM study circle )

,

Seputar Organisasi Proyek Konstruksi


sumber: Vinci Construction

Baiklah. Hampir 2 pekan berlalu tanpa ada kelanjutan yang signifikan terhadap blog yang sudah usang ini. Pasca tulisan terakhir, diriku memang disibukkan dengan suatu pekerjaan yang sebenarnya hanya alibi: menonton youtube, anime, film dan aktivitas kurang produktif lainnya. Untuk konsisten menulis seperti dahulu kala perlu membutuhkan tenaga dan motivasi yang luar biasa besarnya. Entah tenaga sebesar mau didapatkan dari siapa dan dari mana.

Baiklah. Terlalu banyak panjang lebar juga tidak begitu baik, yang nantinya akan membuat blog ini terlalu menye-menye dan kurang strong!!!

Pada tulisan kali ini saya hanya ingin berbagi sedikit khazanah pengetahuan teknik sipil yang saya peroleh dari beberapa bacaan yang saya baca terakhir kali. Sungguh, rekan-rekan sekalian bisa dengan mudah googling dan mencari materi terkait hal yang akan saya bahas ini. Kali ini saya akan menuliskan hal-hal yang tidak terlalu menguras tenaga seperti tulisan terakhir waktu lalu. Temanya adalah seputar organisasi proyek konstruksi. Mudah sekali bukan? Hahahaha.

Ya, pertama kali kita perlu membedah apa yang dimaksud proyek konstruksi lalu organisasi yang dimaksud didalamnya.

Secara sederhana proyek konstruksi terdiri dari kata proyek dan konstruksi. Kita tahu, proyek tidak hanya bergandengan atau berkaitan dengan konstruksi. Proyek ada berbagai macam. Mulai dari hal sederhana seperti proyek tugas besar maupun tugas akhir perkuliahan. Apa yang selalu melekat dalam proyek adalah tujuan, target atau capaian yang ingin kita raih dalam proyek tersebut. Seperti misalnya proyek tugas akhir, yakni tujuan akhirnya adalah pendadaran dan lulus.

Maka dari itu proyek selalu dibatasi oleh waktu. Artinya ada awal yakni kapan kita memulai dan akhir yakni kapan proyek tersebut harus selesai. Dengan begitu setiap proyek pastinya harus memiliki penjadwalan yang baik untuk mencapai tujuan akhir dari pada proyek tersebut. Seperti halnya penelitian atau tugas akhir, kita perlu memetakan proses-proses untuk mencapai tujuan itu mulai dari riset awal, menentukan topik, riset lagi, menentukan metodologi peneltiian, batasan teori, serta mulai penelitian sampai jadi suatu laporan penelitian atau tugas akhir tersebut.

Secara teoritis, mengutip dari buku Manajemen Konstruksi karya Widiasanti & Lenggogeni, proyek adalah suatu kegiatan sementara yang memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu.

Beberapa ciri-ciri proyek adalah sebagai berikut:

- memiliki tujuan dan sasaran berupa suatu produk akhir

- bersifat sementara, telah jelas titik awal mulai dan selesai

- biaya waktu dan mutu dalam pencapaian tujuan dan sasaran tersebut telah ditentukan

- jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung menyebabkan proyek memiliki sifat nonrepetitif, atau tidak berulang.

Dengan prinsip yang sama, apa yang dimaksud dengan proyek konstruksi adalah proyek yang berkaitan dengan dunia konstruksi seperti membangun rumah, jalan, bandara, bendungan, jembatan dan infrastruktur lainnya, dimana proses pembangunan tersebut ada awal dan akhir, yang otomatis dibatasi oleh waktu.

Lawan kata dari proyek adalah operasi. Operasi umumnya terus berlangsung tanpa ada akhir. Seperti misalnya pengoperasian jalan tol, atau kereta api, atau operasi dalam produksi barang-barang yang mempunyai siklus tiada henti.

Sedangkan organisasi adalah pengaturan kegiatan-kegiatan dari beberapa individu dibawah suatu kordinasi yang berfungsi untuk pencapai satu tujuan. Setiap organisasi pasti memiliki pengaturan terkait orang-orang yang berada didalamnya dan tentunya mempunyai tujuan yang jelas.

Menurut Barrie dkk 1995, dalam buku Manajemen Konstruksi karya Widiasanti & Lenggogeni, organisasi proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis yakni:



Organisasi Tradisional

Struktur organisasi ini dibaca sebagai berikut. Owner atau pemilik mempekerjakan atau menyewa konsultan untuk design bangunan serta spesifikasi proyeknya. Pemilik juga menggunakan jasa kontraktor sebagai pelaksana pembangunan. Kontraktor utama dapat mempekerjakan subkontraktor yang berada dibawahnya guna mengerjakan pekerjaan spesifik seperti misalnya khusus pekerjaan pondasi atau basement dan lain sebagainya

sumber: Manajemen Konstruksi (Widiasanti & lenggogani, 2013)
Organisasi Pembangun-Pemilik

Struktur organisasi ini berlaku dimana pelaksana pembangunan dan konsultannya atau perencanaanya adalah selaku owner atau pemilik proyek juga. Tugas pemilik yakni sebagai designer dan kontraktor. Dalam hal ini pemilik juga dapat memperkerjakan subkontraktor guna pekerjaan spesifik. Umumnya organisasi proyek seperti ini dapat dimasakan dengan proyek-proyek swakelola. 

Organisasi Proyek Putar Kunci (Turnkey project)

Dalam organisasi ini, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan proyek dilakukan oleh satu perusahaan. Artinya owner menggunakan jasa satu perusahaan yang bisa mendesain serta melaksanakan pembangunan proyek tersebut. 


sumber: Manajemen Konstruksi (Widiasanti & lenggogani, 2013)


Organisasi Manajemen Konstruksi

Dalam organisasi ini pemilik mempercayakan proses pembangunan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi, namun masih tetap dikontrol. berbeda dengan turnkey yang pemilik tinggal tahu jadi. Konsultan manajemen konstruksi disini merupakan tangan kanan dari pemilik. Perencana dan kontraktor bertanggung jawab kepada konsultan manajemen konstruksi. Manajemen konstruksi disini juga bertindak sebagai pengawas proyek mulai dari saat perencanaan hingga pelaksanaan.

sumber: Manajemen Konstruksi (Widiasanti & lenggogani, 2013)


, ,

Seputar 5M

Bersama Pak Nana dan para power ranger. (Docpribadi/April 2018)


Lama tidak menulis dan membaca, pada kali ini saya ingin membicarakan seputar manajemen proyek konstruksi, lalu akan membahas 5 constraint yang penting dalam dunia konstruksi.

Mengapa menkon? Pertama karena saat strata 1 saya mengambil konsentrasi ini dalam penggarapan skripsi.

Di kampus kami, terutama jurusan teknik sipil, peminatan yang mengarah ke menkon sangat diminati para mahasiswanya. Bisa dibilang menkon berada diurutan pertama yang bersaing ketat dengan transport. Dibawahnya ada geoteknik dan struktur. Peminatan yang paling minim, sepengetahuan saya adalah Keairan.

Manajemen proyek konstruksi, dalam turunannya di mata perkuliahan teknik sipil, terkesan sangat mudah dan gampang. Banyak mahasiswa pasti mendapatkan nilai maksimal jika berhadapan dengan mata kuliah menkon tsb. Pasalnya, berbeda dengan peminatan struktur, keairan, geoteknik & transport, teori dan perhitungan makul peminatan menkon terkesan lebih mudah. Karena ujung-ujungnya berbicara soal hal-hal yang umum-umum seperti penjadwalan proyek, finansial, alat berat dan soal hukum konstruksi.

Sebenarnya saya juga ingin menceritakan terkait alasan mengambil manajemen konstruksi sebagai peminatan saya dalam skripsi dahulu kala. Cuma lebih enak jika disampaikan di tulisan yang berbeda. Tanpa panjang lebar, langsung saja kita bicarakan soal manajemen proyek konstruksi.

Salah satu makul dalam peminantan menkon adalah apa yang kita sebut sebagai manajemen proyek atau manajemen proyek konstruksi. Secara garis besar manajemen proyek konstruksi berkutat seputar proses dari awal kegiatan proyek konstruksi sampai proyek ttersebut dikatakan selesai.

Proses-proses yang dibicarakan adalah mulai dari pelelangan hingga perencanaan, sampai pada tahap pelaksanaan hingga suatu konstruksi tersebut selesai.

Manajemen proyek konstruks, yang juga masuk dalam kerangka ilmu manajemen, pastinya berorientasi pada hasil, yang mana hasil tersebut harus dicapai dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang tinggi.

Maka dari itu dikenal dengan yang namanya 5M dalam bidang pekerjaan apapun yang berkaitan dengan manajemen, termasuk proyek konstruksi. 5M ini adalah constraint yang sangat penting dan yang nantinya perlu di tata, diatur atau dimanage, agar target tercapai dengan baik

1. Manpower (tenaga kerja)

2. Machiners (peralatan)

3. Material (bahan bangunan)

4. Money (uang)

5. Method (metode yang diterapkan)

Penjelasan 5M itu sebagai berikut. Dalam setiap pekerjaan apapun, tenaga adalah salah satu hal penting yang musti diadakan. Begitu juga dengan proyek konstruksi.

Tenaga kerja dalam proyek konstruksi terdiri mulai dari pekerja kasar, atau tukang bangunan, sampai pelaksana lapangan yang bertugas mewujudkan perencanaan/gambar dari suatu konstruksi bangunan dengan penerapan disiplin ilmu keteknikan. Seperti misalnya tukang pasang besi atau tukang pasang bekisting serta yang lainnya. Mereka harus memiliki keterampilan sesuai tupoksi kerjanya. Jika tidak pastinya akan menghambat pelaksanaan proyek tersebut.

Dalam level diatasnya tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan kasar juga dibutuhkan, seperti misalnya pelaksana lapangan yang bertugas mengontrol pelaksanaan, bidang logistik yang bertugas menjadwalkan & mengontrol kebutuhan material serta alat, quality control yang mengecek kualitas pekerjaan apakah sesuai dengan spesifikasi atau tidak, hingga quantity surveyor yang bertugas menghitung kebutuhn volume pekerjaan dan progress pekerjaan, sehingga pada level tinggi, seperti bidang keuangan hingga site manager mampu mengetahui dan mengontrol proses pekerjaan konstruksi.

Selain itu peralatan juga sangat penting. Pekerjaan konstruksi memerlukan alat-alat untuk memudahkan kita melakukan pekerjaan dengan maksud agar efisien dan efektif. Sejak jaman dahulu kala peralatan-peralatan mekanis guna keperluan konstruksi telah ditemukan. Seperti misalnya katrol, dan peralatan penggali sederhana.

Dijaman revolusi industri yang entah sudah keberapa ini, penggunaan alat terlihat dan memang semakin canggih. Apalagi jika diintegrasikan dengan penerapan teknologi pintar yang bisa diakses kapan saja semau kita.

Dalam proyek konstruksi, penggunaan alat spesifik biasanya tergantung dari jenis konstruksi yang akan dilaksanakan, seperti misalnya penggunaan launching gantry pada pekerjaan instalasi box girder pada jembatan atau struktur jalan layang. Namun pada umumnya peralatan-peralatan yang biasa digunakan adalah mobil dumbtruck, loader, excavator dan crane.

Selain itu peralatan yang digunakan para manpower/ tenaga kerja kasar juga harus dipertimbangkan. Seperti misalnya meteran, waterpass, palu, dan lain-lain. Di jaman sekarang dimana orang-orang sudah semakin aware terkait keselamatan kerja, peralatan keselamatan pekerjaan menjadi salah satu constraint dan pertimbangan guna mencapai hasil yang lebih sempurna: pekerjaan kelar, keuntungan diperoleh, tanpa perasaan berdosa telah menghilangkan satu atau dua nyawa pekerjanya.

Bahan atau material juga menjadi constrain dalam proyek konstruksi karena simpelnya begini. Bagaimana anda ingin membangun suatu jembatan atau bendungan tanpa ada bahan-bahan seperti misalnya beton, besi, baja dll? Tentu dalam dunia konstruksi bahan-bahan penyusun suatu struktur bangunan itu sangat-sangat penting. Dalam dunia manajemen, pengaturan bahan juga perlu dikelola agar pelaksanaan mampu tetap terjaga. Kekurangan bahan sedikitpun bisa berpengaruh terhadap hal lainnya. Misalnya akan berpengaruh terhadap waktu penyelesaian, dan bisa jadi jika asal tambal, akan berpengaruh juga pada mutu dan kualitasi suatu pekerjaan.

Manajemen material biasanya diurus oleh bidang logistik. Dalam proyek konstruksi, mereka yang bertugas mengatur sirkulasi & distribusi pengadaan material, mulai dari urusan pencarian supplier material yang berkualitas tapi murah, hingga pengaturan gudang-gudang penyimpanan material. Misalnya material apa saja yang bisa ditumpuk dan disimpan lebih lama, dan material apa saja yang tidak boleh disimpan dan harus langsung dipakai.

Bidang logistik juga harus mengurus kebutuhan material sampai tingkatnya yang bisa dianggap sepele, seperti misalnya paku atau mur dan kayu kaso, tripleks dll. Dalam pekerjaan konstruksi terutama yang menerapkan metode cast in situ atau pengecoran ditempat, penggunaan tripleks, kaso dan kayu akan sangat tinggi guna pembuatan cetakan beton atau biasa disebut bekisting.

Tidak terkontrolnya pengaturan kayu, paku, triplek ini akan membuat pembiayaan perusahaan semakin membengkak. Padahal hanya 3 material yang kita anggap sepele saja. Namun 3 bahan ini akan terus digunakan sampai pengecoran atau pekerjaan struktural rampung.

Maka dari itu, seorang site manager dan kepala logistik yang baik harus mampu menanda dan memperkirakan material-material mana saja yang akan selalu digunakan terus menerus. Sehingga langkah awal yang pasti adalah mencari rekanan supplier yang mumpuni yang mampu memberikan harga yang relatif murah serta dengan fasilitas plus-plus yakni pemberian pinjaman/kasbon jika finansial perusahaan sedang kering.

Selanjutnya berkaitan dengan uang. Uang, uang dan uang. Tak sadar kita telah diperdaya olehnya. Namun kekuatan uang atau kapital atau modal sejak jaman dahulu kala pastinya berpengaruh terhadap apapun. Apapun itu.

Sektor konstruksi yang merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan fisik suatu bangsa dan negara membuat peluang hadirnya pundi-pundi kekayaan bagi siapa yang terlibat didalamnya. Uang menjadi target dari para penawar jasa konstruksi dalam sektor plat merah maupun swasta. Dalam kondisi makro ini, kepiawaian perusahaan jasa konstruksi dalam mengelola finansial perusahaannya akan mampu membuat perusahaannya mampu bertahan, sekecil apapun tingkat proyek yang didapatkan. Mulai dari skala perseroan terbatas dengan grade 6-7 hingga kerjasama via mulut yang berujung menjadi pembuatan CV. Semua harus piawai mengelola keuangan agar bisa bertahan dan bangkit.

Proyek konstruksi membutuhkan dana yang tidak sedkiti untuk melaksanakannya. Maka dari itu dalam proses tender atau pelelangan adalah syarat KD atau kemampuan dasar peserta lelang.

KD, seperti dijelaskan dalam buku Pelelangan Jasa Konstruksi karya Suparyakir, adalah kemampuan finansial penyedia jasa konstruksi calon peserta lelang untuk mengikuti pelelangan.

Peraturan yang berlaku menetapkan, untuk kasus jasa konstruksi dengan kualifikasi non kecil, KD suatu perusahaan harus 2npt. Npt adalah nilai point tertinggi yang diambil dari nilai kontrak tertinggi yang pernah ditangani penyedia jasa konstruksi tersebut.

Jadi jika suatu perusahaan pernah menangani proyek 2 milar, dia bisa mengikuti lelang/tender selanjutnya dengan nilai kontrak maksimal 4 miliar. Begitu seterusnya.

Dalam dunia konstruksi, segala gambar yang ada dihitung volumenya, selanjutnya dari volume kita mendapatkan biaya material. Jika ditambah dengan pekerjaan dan penerapan alat akan didapatkan rencana anggaran biaya secara utuh. Dalam pelaksanaan, rencana anggaran pelaksanaan dievaluasi terus-menerus karena biasanya terjadi eskalasi harga dan lain-lain.

Lalu M yang terakhir yakni metode. Metode disini bisa dianggap sebagai cara yang kita tempuh guna melaksanakan suatu pekerjaan konstruksi.

Misalnya pada pembangunan suatu jalan tol, kita perlu memilih apakah fabrikasi beton dikirim lewat pabrik yang masih dalam jangkauan atau malahan justru membuat fabrikasi beton sendiri, atau justru memilih opsi kedua-duanya. Atau misalnya Memilih precast atau cast in situ. Dan lain-lain.

Dalam metode konstruksi kita akan dihadapkan dengan opsi-opsi yang rasional, yang pada kelanjutannya bisa mengandung efektifitas & efisiensi yang tinggi, namun memilki resiko yang tinggi, atau sebaliknya. Resiko yang tinggi bisa jadi dalam sektor finansial dan anggaran hingga masalah keselamatan dan keamanan.

Pemilihan metode konstruksi biasanya melibatkan juga penggunaan alat dan tenaga kerja yang kita pilih.

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.